Para Cagub dan Cawagub Jabar menjual visi misi dalam acara "Debat Cagub dan Cawagub Jawa Barat" di Kampus Unpad, Bandung. Mereka dituntut untuk memaparkan pembangunan Jabar dari perspektif budaya.
Debat ini digelar Badan Musyawarah (Bamus) Sunda ini dan hanya dihadiri dua pasangan cagub. Yakni pasangan nomor urut 5, pasangan Rieke Diah Pitaloka-Teten Masduki dan pasangan nomor urut 4 yang hanya dihadiri calon incumbent Ahmad Heryawan.
Lainnya, tiga pasangan cagub tidak hadir, yakni Irianto MS Syafiudin-Tatang Farhanul Hakim (2), Dikdik Mulyana Arif Mansyur-Cecep NS Toyib (1), dan Dede Yusuf-Lex Laksamana (3).
Incumbent, Ahmad Heryawan mengatakan, terdapat tiga unsur penting yang diterapkan dalam kehidupan manusia, yakni agama, ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek), serta budaya dan seni.
"Agama akan membuat kehidupan menjadi terarah, iptek akan membuat hidup jadi mudah, serta yang tak kalah penting budaya dan seni yang akan membuat hidup menjadi lebih indah," katanya.
Seni dan budaya senantiasa harus dijaga dan diaplikasikan dalam setiap kehidupan. Menjaga kelestarian budaya dan seni daerah merupakan awal dari kelestarian budaya nasional.
"Ketika berkomitmen untuk menjaga kebudayaan nasional, berarti kita wajib melestarikan kebudayaan daerah," paparnya.
Dia akan memasukan budaya lokal ke dalam kurikulum pendidikan. "Salah satu contohnya saya telah mengirimkan surat rekomendasi kepada Kementerian Pendidikan Nasional agar Bahasa Sunda tetap berada dalam kurikulum pendidikan," katanya.
Sementara itu Cagub Rieke Diah Pitaloka menyoroti rakyat Jabar yang sebenarnya lebih berbudaya dibanding para pemimpinnya. Kerja rakyat tradisional yang sangat mempertimbangkan keseimbangan alam, sedangkan pemimpin membuat kebijakan yang tidak mempertimbangkan keberlangsungan lingkungan yang harmonis.
"Kebudayaan itu adalah tingkah laku manusia untuk mengelola alam secara positif. Kalau negatif itu berarti bukan bagian kebudayaan," kata Rieke.
Banyak contoh kebijakan pemimpin yang menurutnya tidak berbasiskan budaya. Pelaksanaan pembangunan sering dilakukan dengan merusak alam.
"Contoh Mbah Eroh yang melakukan kerja kebudayaan dengan membelah bukit untuk mengalirkan air untuk masyarakat setempat. Tanpa harus mengotori tapi mbah eroh bisa," katanya.
Kebudayaan bukanlah kesenian, melainkan kerja untuk mengelola alam. Sementara, kesenian tradisi sendiri bisa dimanfaatkan sebagai corong informasi yang penting seperti penyadaran antikorupsi, dan lainnya.
"Kerja kebudayaan bisa disosialisasikan dengan kesenian tanpa rakyat merasa digurui, dekat dengan pemimpin, dan pemimpin juga tidak merasa sebagai elite," ujarnya.
