TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kasus suap sapi impor yang menghantam Partai Keadilan Sejahtera (PKS) diprediksi akan memberikan keuntungan bagi lawan politik calon incumbent Ahmad Heryawan yang memang diusung PKS dalam Pilgub Jawa Barat.
Namun, salah satu calon gubernur Jawa Barat, Rieke Diah Pitaloka mengaku dirinya melihat terbongkarnya kasus suap dalam tender impor daging sapi tersebut sebagai sarana untuk mengangkat persoalan krisis daging yang terjadi di Jawa Barat.
"Untuk persoalan sapi impor, kita tidak ingin mendapatkan keuntungan dari partai tertentu. Bagi saya keuntungan dari terbongkarnya kasus ini, kita jadi punya kesempatan untuk menyuarakan pendapat persoalan dalam krisis daging sapi," ucap Rieke saat ditemui disela-sela rapat konsilidasi di kantor DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta, Senin (4/2/2013).
Rieke juga membantah pemberitaan yang menyebutkan bahwa dirinya memanfaatkan terbongkarnya kasus tersebut untuk mendapatkan keuntungan dalam proses perolehan suara. Karena sebagaimana diketahui, pasangan Aher-Dedi yang diusung PKS memang merupakan salah satu kandidat kuat dalam pilgub yang akan digelar 24 Februari 2014 mendatang.
"Yang saya katakan itu mendapat keuntungan dari kasus suap sapi adalah untuk menyuarakan krisis sapi yang terjadi di Jabar, tapi yang ditulis di pemberitaan malah saya memanfaatkan keuntungan untuk perolehan suara, padahal tidak demikian," tukasnya.
Rieke juga menjelaskan bahwa dirinya bukan anti impor, tetapi ia melihat kebijakan impor dalam bentuk daging sapi tidak memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia. Jika impor dilakukan dalam bentuk daging, maka pengaruhnya dalam perekonomian masyarakat tidak akan terlalu besar.
"Kalau memang harus impor, yang kita terima itu impor sapi trading, karena kalau impor dagingnya yang akan terserap paling hanya tenaga sopir dan tukang angkut," tukas Rieke.
