Umat Hindu Dharma di Bali mulai bersiap-siap menyongsong Hari Suci Galungan yang bermakna memperingati kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (Keburukan), yang jatuh pada hari Rabu, 27 Maret 2013.
Wanita Bali seminggu menjelang hari suci itu sudah mulai mempersiapkan diri membuat rangkaian janur maupun kue kering untuk kombinasi kelengkapan ritual.
Kehalusan jiwa dan watak sosok wanita Bali yang bisa tersenyum di tengah kesulitan ekonomi maupun hari raya yang jatuh secara beruntun, karena sebelumnya 13 Maret 2013 juga merayakan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1935.
Wanita Bali memang dikenal gigih dan sanggup kerja apa saja yang produktif dalam meningkatkan pendapatan keluarga. Setiap saat mereka sangat sibuk menyiapkan sarana ritual rangkaian hari suci Galung yang tinggal beberapa hari lagi.
Kegigihan wanita Bali tampak dengan tanpa “pandang bulu” dalam melakukan pekerjaan, karena jenis pekerjaan apapun sangup dipikulnya. Hal itu terbukti, jenis pekerjaan kasar yang indentik dengan pria seperti buruh bangunan yang bekerja di bawah terik matahari juga sanggup digelutinya, tutur Dr Gde Artawan, M.Pd, seorang penyair, esais, dan juga dosen Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja.
Dalam sebuah diskusi Sandyakala Sastra membahas Perempuan Bali dalam Novel: dari Panji Tisna hingga Oka Rusmini, Ia mengungkapkan wanita Bali dalam kehidupan sosial kemasyarakatan juga mengemban tugas yang sangat penting dalam menyukseskan berbagai kegiatan ritual dan upacara adat.
Semua itu dilakoninya dengan iklas dan senang hati, di luar tugas dan tanggung jawab dalam menekuni profesi masing-masing.
“Saya merasa terharu menyaksikan ketulusan, keiklasan dan ketekunan wanita Bali dalam memaknai hari-hari suci keagamaan yang kadang kala jatuh secara beruntun,” tutur Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Bali Nyonya I.G.A Bintang Darmawati.
Ibu seorang putra itu mengungkapkan perasaannya yang penuh haru setelah melihat kaumnya di tengah kesibukan menyiapkan segala keperluan upacara suci keagamaan, selain tugas dan tanggung jawab yang diemban sehari-hari.
Wanita Bali tidak bekerja sendirian untuk itu, mereka dibantu oleh suami dan anggota keluarga masing-masing, meskipun yang lebih menonjol adalah peranan dan aktivitas kaum ibu.
“Tanpa kerja sama dan saling membantu dalam keluarga itu, mustahil dapat menyiapkan dan menyukseskan rangkaian pelaksanaan hari suci yang mewarnai kehidupan masyarakat sehari-hari,” ujarnya istri dari Anak Agung Ngurah Puspayoga, calon Gubernur Bali yang berpasangan dengan Dewa Nyoman Sukrawan yang diusung oleh PDIP pada Pilgub 15 Mei mendatang.
Semua Sibuk
Masyarakat Bali yang bermukim di kota maupun pedesaan mulai sibuk melakukan persiapan yang sama menyambut Galungan, yang pria dalam satu keluarga sudah memotong bambu dan bagi masyarakat kota membeli bambu dan ambu (enau) untuk hiasan penjor yang nantinya dipajang di depan pintu masuk keluarga masing-masing.
Namun berbagai jenis peralatan penjor (bambu yang dihias) itu sudah ada yang menjualnya secara lengkap di pasar, sehingga kebanyakan warga membeli modifikasi peralatan penjor yang terbuat dari lontar.
Kelengkapan satu set penjor berkisar Rp130.000 – Rp 1 juta tergantung ukuran dan aneka jenis hiasan. Dengan kelengkapan modifikasi itu lebih praktis, karena hanya tinggal mengikat pada bambu sudah rampung, berbeda halnya dengan menggunakan enau atau janur yang memerlukan waktu lebih lama untuk menghias bambu menjadi penjor.
Sementara yang perempuan, baik remaja putri maupun ibu rumah tangga sejak awal pekan ini telah memanfaatkan waktu luangnya untuk merangkai janur (mejejahitan) guna dipersembahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Ida Sanghyang Widhi Wasa, saat Hari Raya Galungan maupun Kuningan.
Tidak ketinggalan pula ibu rumah tangga yang bekerja di perkontaran pemerintah, swasta termasuk wanita karier, memanfaatkan waktu senggang pada malam hari membuat bebantenan dan perlengkapan upacara keagamaan lainnya.
Oleh sebab itu bahan baku berupa janur, buah-buahan, pisang, daging dan kebutuhan sehari-hari lainnya menjelang Galungan dan Kuningan harganya melonjak.
Belajar sejak kecil Ketua Program Studi Pemandu wisata Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar Dr I Ketut Sumadi menjelaskan, wanita Bali memang sejak kecil telah terlatih membuat banten berkat orang tua selalu melibatkan anak perempuan dalam membuat sesaji upacara ritual.
Metode mendidik anak belajar sambil bekerja sangat efektif dan menunjukan hasil gemilang, sehingga wanita Bali tidak pernah berkeluh kesah dalam menunaikan tugas serta kewajibannya.
Dengan keluguan mengarungi kehidupan, wanita Bali sanggup beradaptasi dengan perempuan modern. Mereka juga menjadi objek dan inspirasi bagi seniman lukis dalam menciptakan karya seni di atas kanvas.
Kalau diinventarisasi, tidak terhitung jumlahnya keesotikan perempuan Bali yang dimanfaatkan menjadi objek lukisan oleh seniman dalam dan luar negeri yang berdomisili di Pulau Dewata.
W. Gerard Holker, seniman asing yang lama bermukim di perkampungan seniman Ubud, misalnya sangat terpesona oleh “Kartini Bali” dalam pakaian adat serat bunga emas, membawa sesajen dalam bokor.
Demikian pula perintis seni lukis Pita Maha di Ubud, Rudolf Bonnet sering kali melukis sosok wanita Bali yang polos, rambut panjang dikepang dengan bunga kamboja terselit di pangkal ekor kepang rambutnya.
Sementara Mario Antonio Belanco (alm) maupun pelukis Dullah tidak luput menggambarkan wanita Bali dari segi erotisnya. Demikian pula I Nyoman Djirna, seniman lokal menggambarkan wanita Bali dari keluguan, kepolosan dan kodratnya.
