Ketua Panwaslu Provinsi Jateng Abhan Misbah yang ikut mengawasi acara deklarasi Hadi Prabwo-Don Murdono (HP-Don) mengaku mendapat pertanyaan dari banyak pihak terkait kehadiran Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jateng Hendro Basuki di acara tersebut.
Pasalnya, Hendro Basuki memakai baju beratribut HP-Don dan membaur bersama para pendukung HP-Don hingga usai acara.
Beberapa pihak, termasuk dari unsur wartawan sendiri bertanya, apakah pantas seorang Hendro Basuki yang nota bene tokoh pers mendukung salah satu calon gubernur. Sebab hal itu dinilai mencederai kode etik pers yang mewajibkan wartawan netral alias berada di atas segala kepentingan politik partisan.
"Saya mendapat pertanyaan dari berbagai pihak soal kehadiran Ketua PWI Jateng yang memakai baju HP-Don," tutur Abhan Misbah dalam siaran pers kepada merdeka.com Senin (18/3).
Namun demikian, Abhan mengatakan, hal itu bukan ranah Panwaslu. Apabila insan pers dan masyarakat hendak memperkarakan, Panwaslu sebatas memberi masukan apabila diminta. Namun sebagai warga masyarakat yang sangat menghormati kode etik pers, Abhan menyayangkan sikap Hendro Basuki itu.
Abhan mengatakan, walaupun hak politik dijamin undang-Undang, tetapi status sebagai orang pers, menurutnya, haruslah bisa berdiri di atas semua kepentingan. Sebab jika seorang wartawan atau sebuah media memihak, akibatnya bisa buruk untuk perkembangan demokrasi di negeri ini.
"Sebagai bagian dari masyarakat yang menghormati pers, saya menyayangkan tindakan Pak Hendro Basuki. Memang itu hak asasi yang dijamin undang-undang. Tetapi seorang ketua PWI mestinya tidak begitu," pungkasnya.
