
Berbagai bantuan telah dicanangkan oleh Pemerintah Provinsi Bali. Namun bantuan itu belum sepenuhnya didapat oleh warga miskin di pedesaan.
Darmawan, warga asal Desa Penutukan, Kecammatan Tejakula, Kabupaten Buleleng menyebut minimnya bantuan untuk warga masyarakat miskin di pedesaan. Hingga kini desanya semakin tertinggal lantaran belum tersentuh pembangunan. “Katanya banyak bantuan dari Pemerintah Provinsi Bali. Tapi desa kami sampai sekarang belum tersentuh bantuan dan pembangunan,” kata Darmawan saat berkesempatan bertemu dengan Wakil Gubernur Bali, Anak Agung Ngurah Puspayoga di Desa Tejakula, Kecamatan Tejakula, Sabtu 20 April 2013.
Pada kesempatan itu, Darmawan juga mengeluhkan minimnya sarana kesehatan di desanya. Untuk menuju puskesmas terdekat, Darmawan menyebut paling sebentar sekitar 1,5 jam perjalanan. “kalau bisa kami berharap dibuatkan puskesmas rawat inap dengan fasilitas memadai di desa kami. Ini sangat penting dan mendesak bagi warga masyarakat kami,” kata Darmawan.
Hal lainnya disampaikan Darmawan adalah realisasi wacana pembangunan bandara di Buleleng. Ia berharap agar bandara di Buleleng segera dapat diwujudkan. Harapannya, tentu saja agar keberadaan bandadra di Buleleng dapat menggairahkan pariwisata di kawasan itu, sehingga laju perekonomian di Bumi Panji Sakti juga berputar. “Mohon lapangan terbang segera direalisasikan Pak Puspayoga, biar kami bisa merubah nasib dan mengembangkan perekonomian kami,” ucap Darmawan polos.
Puspayoga tak menampik jika terjadi ketimpangan pendapatan di Pulau Bali. Itu sebabnya, kata dia, pemerataan pembangunan menjadi kunci untuk meningkatkan pembangunan di pedesaan. Caranya, sambung kandidat Gubernur Bali yang diusung PDIP ini adalah, tak lain dan tak bukan, membangun berbasis kabupaten/kota.
“Masih banyak sekali masyarakat miskin. Kuncinya adalah mengubah pola kepemimpinan Bali. Desa itu harus terus disupport dari segala aspek mulai dari ekonominya, keseniannya, adat hingga budayanya,” jelas Puspayoga.
Pemerintah Provinsi Bali sangat bisa membantu jalur buntu memecah kemiskinan dan ketimpangan pembangunan di Bali. Caranya dengan memberikan Bantuan Keuangan Khusus (BKK) yang dialokasikan sesuai dengan kebutuhan kabupaten/kota.
“BKK ini yang nantinya diberikan kepada bupati/walikota untuk dialokasikan memecah ketimpangan dan mengurai kemiskinan. Belum lagi soal asset provinsi yang banyak tersebar di kabuapten/kota. Itu nanti akan kita serahkan kepada kabupaten/kota untuk kepentingan masyarakat setempat,” ucapnya.
“Mau dibangun Pura boleh, dibangun wantilan, lapangan bola dan lainnya, sepanjang itu untuk keperluan masyarakat silakan. Kita akan serahkan asset itu untuk kepentingan masyarakat,” tambah Puspayoga.
Menurut Puspayoga, memberikan bantuan kepada desa bukan mimpi. “Kuncinya adalah political will, kemauan politik dari seorang pemimpin,” tegas kandidat nomor urut 1 ini. Menjawab soal sarana kesehatan, Puspayoga mengaku sangat setuju jika di sarana kesehatan di desa ditingkatkan fasilitasnya. Di setiap desa, Puspayoga melanjutkan, harus ada puskesmas pembantu. Sementara di tingkat kecamatan harus ada puskesmas rawat inap dengan fasilitas yang memadai.
“Soal bandara di Buleleng, saya juga sangat setuju dan sangat mendukung. Saya percaya dan yakin itu akan membuka lapangan pekerjaan yang luas di segala sector, yang pada akhirnya dapat menekan angka kemiskinan,” papar Puspayoga. “kalau saya gubernurnya, hari ini langsung saya teken persetujuan pembangunan bandara di Buleleng, karena itu memiliki efek luas bagi masyarakat Buleleng, kabupaten tetangga dan masyarakat Bali secara keseluruhan,” tambahnya.
Dengan keberadaan bandara di Buleleng, Puspayoga yakin akan mampu menyerap tenaga kerja yang luas. Tak hanya di sekitar bandara, tetapi juga dalam hal industri pariwisata di Bumi Panji Sakti. “Destinasi pariwisata di Buleleng juga harus dijaga dan perbaiki. Mari kita sama-sama tingkatkan dan jaga kualitasnya. Saya percaya tingkat kesejahteraan masyarakat akan meningkat,” tambah Puspayoga.